Umum

ISO 45001 Akan Direvisi: Apa yang Perlu Dipersiapkan Perusahaan?

calendar_today 14 September 2026 visibility 69 views
ISO 45001 Akan Direvisi: Apa yang Perlu Dipersiapkan Perusahaan?

Perusahaan yang telah menerapkan ISO 45001:2018 perlu mulai memperhatikan perkembangan revisi standar keselamatan dan kesehatan kerja. Revisi ini bukan sekadar perubahan dokumen, tetapi dapat memengaruhi cara perusahaan mengidentifikasi bahaya, mengelola risiko, melibatkan pekerja, mengevaluasi kinerja K3, dan memastikan kepemimpinan berjalan secara nyata.

ISO 45001 merupakan standar internasional untuk sistem manajemen keselamatan dan kesehatan kerja atau SMK3. Standar ini membantu organisasi membangun sistem yang terstruktur untuk mencegah cedera dan gangguan kesehatan akibat pekerjaan, mengendalikan risiko, serta meningkatkan kinerja keselamatan dan kesehatan kerja secara berkelanjutan.

Lalu, apa yang perlu dipersiapkan perusahaan sebelum standar revisi diterbitkan?

Bagaimana Status Revisi ISO 45001 Saat Ini?

Revisi ISO 45001 telah dikonfirmasi oleh ISO/TC 283 pada Desember 2023. Pada 2025, proses pengembangan berlanjut melalui tahap Committee Draft. Selanjutnya, Draft International Standard atau DIS memasuki tahap voting dan komentar internasional pada pertengahan 2026.

Berdasarkan informasi dari ISO/TC 283, proses DIS berlangsung hingga 9 Agustus 2026. Versi final ISO 45001 yang telah direvisi diperkirakan akan diterbitkan pada 2027. Namun, perusahaan perlu memahami bahwa dokumen DIS belum dapat diperlakukan sebagai standar final.

Dengan demikian, perusahaan sebaiknya tidak terburu-buru mengubah seluruh dokumen berdasarkan rumor atau interpretasi terhadap draf. Langkah yang lebih tepat adalah mempersiapkan fondasi sistem manajemen K3 agar lebih kuat dan mudah disesuaikan ketika versi final diterbitkan.

Mengapa ISO 45001 Perlu Direvisi?

Dunia kerja mengalami perubahan yang cukup besar. Perusahaan tidak lagi hanya menghadapi risiko keselamatan tradisional seperti kecelakaan mesin, jatuh dari ketinggian, paparan bahan kimia, atau kecelakaan kendaraan kerja.

Saat ini, organisasi juga perlu memperhatikan berbagai tantangan baru, seperti:

  • Risiko psikososial dan kesehatan mental di tempat kerja.
  • Pola kerja jarak jauh dan hybrid.
  • Perubahan iklim dan dampaknya terhadap keselamatan pekerja.
  • Penggunaan teknologi, otomasi, dan sistem kerja digital.
  • Rantai pasok dan aktivitas kontraktor.
  • Perubahan bentuk pekerjaan dan tenaga kerja.
  • Kebutuhan keterlibatan pekerja yang lebih bermakna.
  • Tuntutan terhadap pengukuran kinerja K3 yang lebih efektif.

Revisi ISO 45001 diharapkan dapat menjaga relevansi standar terhadap perkembangan risiko dan kebutuhan organisasi modern. Beberapa topik tersebut telah menjadi perhatian dalam pekerjaan ISO/TC 283, termasuk kesehatan psikososial, perubahan iklim, pekerjaan jarak jauh, evaluasi kinerja, serta kepemimpinan dan tata kelola K3.

Apakah ISO 45001:2018 Masih Berlaku?

Ya. Selama standar revisi belum diterbitkan dan diberlakukan melalui mekanisme transisi, ISO 45001:2018 masih menjadi acuan yang berlaku bagi perusahaan yang menerapkan sistem manajemen keselamatan dan kesehatan kerja.

Perusahaan juga perlu memperhatikan ISO 45001:2018/Amd.1:2024 mengenai perubahan terkait aksi perubahan iklim. Amendemen ini memperkenalkan pertimbangan perubahan iklim dalam konteks organisasi dan kebutuhan pihak berkepentingan.

Artinya, perusahaan tidak perlu menunggu ISO 45001 versi baru untuk mulai mengevaluasi dampak perubahan iklim terhadap keselamatan dan kesehatan kerja.

Apa yang Perlu Dipersiapkan Perusahaan?

1. Melakukan Gap Analysis terhadap Sistem yang Berjalan

Langkah pertama adalah melakukan gap analysis terhadap penerapan ISO 45001:2018 yang saat ini berjalan. Tujuannya adalah mengetahui apakah sistem manajemen K3 benar-benar efektif atau hanya berfokus pada kelengkapan dokumen.

Gap analysis dapat mencakup beberapa pertanyaan berikut:

  • Apakah identifikasi bahaya dilakukan secara berkala?
  • Apakah penilaian risiko mencakup seluruh aktivitas operasional?
  • Apakah risiko kontraktor dan pekerja pihak ketiga telah dikendalikan?
  • Apakah pekerja dilibatkan dalam pengambilan keputusan K3?
  • Apakah insiden dan near miss dianalisis sampai akar masalah?
  • Apakah sasaran K3 diukur berdasarkan indikator yang relevan?
  • Apakah hasil audit digunakan untuk perbaikan nyata?
  • Apakah manajemen puncak menunjukkan kepemimpinan yang aktif?

Hasil gap analysis dapat digunakan sebagai dasar untuk menyusun rencana peningkatan sistem sebelum standar revisi diterbitkan.

2. Memperkuat Identifikasi Bahaya dan Penilaian Risiko

Perusahaan perlu memastikan bahwa proses identifikasi bahaya tidak hanya dilakukan saat awal sertifikasi atau menjelang audit eksternal.

Identifikasi bahaya sebaiknya mencakup:

  • Aktivitas rutin dan tidak rutin.
  • Kondisi normal, abnormal, dan keadaan darurat.
  • Pekerja tetap, pekerja kontrak, tamu, dan pihak ketiga.
  • Perubahan proses, peralatan, teknologi, dan fasilitas.
  • Aktivitas pemeliharaan dan pekerjaan berisiko tinggi.
  • Risiko ergonomi dan kelelahan kerja.
  • Risiko psikososial di tempat kerja.
  • Dampak cuaca ekstrem dan perubahan iklim.

Penilaian risiko juga perlu mempertimbangkan apakah pengendalian yang diterapkan benar-benar efektif. Perusahaan tidak cukup hanya memiliki matriks risiko, tetapi harus mampu menunjukkan hubungan antara risiko, pengendalian, penanggung jawab, dan hasil evaluasinya.

3. Memperkuat Keterlibatan dan Konsultasi Pekerja

Sistem manajemen K3 akan sulit berjalan apabila hanya disusun oleh bagian HSE atau K3 tanpa melibatkan pekerja yang menjalankan aktivitas sehari-hari.

Perusahaan perlu menyediakan mekanisme konsultasi dan partisipasi pekerja, misalnya:

  • Forum komunikasi K3 secara rutin.
  • Pelaporan kondisi tidak aman dan near miss.
  • Pelibatan pekerja dalam penyusunan JSA atau HIRADC.
  • Diskusi keselamatan sebelum pekerjaan dimulai.
  • Evaluasi hasil inspeksi bersama pekerja.
  • Saluran pelaporan tanpa intimidasi atau pembalasan.

Perusahaan juga perlu memastikan bahwa pekerja memiliki kesempatan menyampaikan masalah keselamatan tanpa takut disalahkan. Budaya K3 yang sehat tidak dibangun hanya melalui slogan, tetapi melalui komunikasi dua arah dan tindak lanjut yang jelas.

4. Mengevaluasi Risiko Psikososial

Risiko psikososial semakin penting dalam sistem manajemen keselamatan dan kesehatan kerja. Risiko ini dapat muncul dari beban kerja berlebihan, tekanan target, konflik di tempat kerja, kurangnya dukungan, jam kerja panjang, ketidakjelasan peran, atau lingkungan kerja yang tidak sehat.

Perusahaan sebaiknya mulai mengevaluasi:

  • Beban kerja dan distribusi tugas.
  • Pola kerja lembur dan waktu istirahat.
  • Tekanan target dan tuntutan pekerjaan.
  • Hubungan antara atasan dan bawahan.
  • Risiko perundungan, pelecehan, dan diskriminasi.
  • Dukungan terhadap pekerja yang mengalami masalah kerja.
  • Dampak pekerjaan jarak jauh atau hybrid.

Pengelolaan risiko psikososial dapat dilakukan melalui survei, wawancara, diskusi kelompok, evaluasi beban kerja, serta program perbaikan lingkungan kerja.

5. Mengintegrasikan Pertimbangan Perubahan Iklim

Perubahan iklim dapat memengaruhi keselamatan pekerja secara langsung maupun tidak langsung. Gelombang panas, banjir, badai, kekeringan, kualitas udara, dan perubahan pola penyakit dapat meningkatkan risiko operasional.

Perusahaan perlu mengevaluasi apakah perubahan iklim relevan terhadap konteks organisasi dan sistem manajemen K3. Contohnya:

Risiko Perubahan Iklim Dampak terhadap K3 Contoh Pengendalian
Suhu ekstrem Dehidrasi, heat stress, penurunan konsentrasi Pengaturan jam kerja, area istirahat, air minum, pemantauan suhu
Banjir Kecelakaan, gangguan akses, risiko listrik Rencana tanggap darurat, jalur evakuasi, pemeriksaan instalasi
Kualitas udara buruk Gangguan pernapasan dan penurunan kesehatan pekerja Pemantauan kualitas udara dan penggunaan perlindungan yang sesuai
Cuaca ekstrem Gangguan pekerjaan lapangan dan transportasi Prosedur penghentian pekerjaan dan sistem peringatan dini

6. Memperkuat Pengendalian Kontraktor dan Pemasok

Banyak insiden K3 terjadi pada aktivitas yang melibatkan kontraktor, vendor, subkontraktor, atau pekerja eksternal. Oleh karena itu, pengendalian pihak ketiga perlu menjadi bagian penting dari evaluasi sistem.

Perusahaan dapat mempersiapkan:

  • Kriteria seleksi kontraktor berbasis kompetensi dan kinerja K3.
  • Evaluasi dokumen dan rekam jejak keselamatan kontraktor.
  • Induksi K3 sebelum pekerjaan dimulai.
  • Pengawasan aktivitas berisiko tinggi.
  • Evaluasi kinerja kontraktor secara berkala.
  • Persyaratan pelaporan insiden dan near miss.
  • Ketentuan penghentian pekerjaan yang tidak aman.

Pengendalian kontraktor sebaiknya tidak berhenti pada pemeriksaan dokumen. Perusahaan harus memastikan bahwa persyaratan K3 diterapkan secara nyata di lapangan.

7. Mengembangkan Indikator Kinerja K3 yang Lebih Bermakna

Perusahaan perlu meninjau kembali indikator kinerja keselamatan dan kesehatan kerja. Jumlah kecelakaan memang penting, tetapi tidak selalu cukup untuk menggambarkan efektivitas sistem.

Selain indikator lagging seperti jumlah kecelakaan, perusahaan dapat menggunakan indikator leading, antara lain:

  • Persentase penyelesaian tindakan korektif.
  • Jumlah pelaporan near miss.
  • Jumlah inspeksi dan observasi keselamatan.
  • Persentase pekerja yang mengikuti pelatihan wajib.
  • Kecepatan penyelesaian temuan berisiko tinggi.
  • Jumlah konsultasi atau forum partisipasi pekerja.
  • Persentase evaluasi risiko yang diperbarui.
  • Kepatuhan terhadap pemeriksaan peralatan keselamatan.

Indikator tersebut perlu dikaitkan dengan sasaran K3, tanggung jawab, target waktu, dan evaluasi manajemen.

8. Memastikan Kepemimpinan Manajemen Tidak Hanya Formal

Salah satu tantangan penerapan ISO 45001 adalah masih adanya perusahaan yang menempatkan tanggung jawab K3 hanya pada departemen HSE.

Padahal, keselamatan dan kesehatan kerja merupakan tanggung jawab manajemen dan seluruh organisasi. Manajemen puncak perlu menunjukkan komitmen melalui:

  • Penyediaan sumber daya yang memadai.
  • Penetapan sasaran K3 yang jelas.
  • Keterlibatan dalam evaluasi kinerja K3.
  • Pengambilan keputusan berdasarkan risiko.
  • Pemberian kewenangan untuk menghentikan pekerjaan tidak aman.
  • Peninjauan efektivitas tindakan korektif.
  • Penguatan budaya pelaporan dan pembelajaran dari insiden.

Perusahaan perlu menyimpan bukti bahwa kepemimpinan K3 berjalan secara nyata, bukan hanya melalui tanda tangan kebijakan atau kehadiran dalam rapat formal.

Dokumen Apa Saja yang Perlu Ditinjau?

Sebelum standar revisi diterbitkan, perusahaan dapat mulai meninjau dokumen dan rekaman berikut:

Area Dokumen atau Rekaman yang Ditinjau
Konteks organisasi Analisis konteks, pihak berkepentingan, isu internal dan eksternal
Kepemimpinan Kebijakan K3, struktur tanggung jawab, bukti keterlibatan manajemen
Perencanaan HIRADC, HIRARC, JSA, register risiko, sasaran K3
Kompetensi Matriks kompetensi, pelatihan, sertifikasi, evaluasi efektivitas
Komunikasi Notulen rapat, toolbox meeting, laporan konsultasi pekerja
Operasional Prosedur kerja aman, izin kerja, pengendalian kontraktor, inspeksi
Kesiapsiagaan darurat Skenario darurat, simulasi, evaluasi hasil latihan
Evaluasi kinerja Audit internal, inspeksi, indikator K3, tinjauan manajemen
Perbaikan Laporan insiden, investigasi akar masalah, tindakan korektif

Apakah Perusahaan Harus Mengubah Sertifikat Sekarang?

Belum tentu. Selama ISO 45001:2018 masih menjadi standar yang berlaku, perusahaan tetap dapat menjalankan, memelihara, dan meningkatkan sistem berdasarkan versi tersebut beserta amendemen yang relevan.

Perusahaan tidak disarankan melakukan perubahan besar hanya berdasarkan informasi tidak resmi mengenai isi revisi. Perubahan resmi harus mengacu pada standar final, ketentuan lembaga sertifikasi, serta aturan transisi yang nantinya ditetapkan.

Namun, perusahaan dapat mulai mempersiapkan sistem melalui peningkatan yang secara umum bermanfaat, seperti memperkuat pengendalian risiko, meningkatkan partisipasi pekerja, memperbaiki indikator K3, mengevaluasi risiko psikososial, dan mempertimbangkan dampak perubahan iklim.

Strategi Persiapan Berdasarkan Tahapan

Tahap 1: Persiapan Awal

  • Menunjuk tim internal untuk memantau perkembangan revisi.
  • Melakukan gap analysis ISO 45001:2018.
  • Memetakan risiko utama dan kelemahan sistem.
  • Mengevaluasi kepatuhan terhadap peraturan K3.

Tahap 2: Penguatan Sistem

  • Memperbarui identifikasi bahaya dan penilaian risiko.
  • Memperkuat konsultasi dan partisipasi pekerja.
  • Meninjau risiko psikososial dan perubahan iklim.
  • Memperbaiki pengendalian kontraktor.
  • Mengembangkan indikator leading dan lagging.

Tahap 3: Penyesuaian terhadap Standar Final

  • Mempelajari ISO 45001 versi final setelah diterbitkan.
  • Mengidentifikasi perubahan persyaratan secara resmi.
  • Menyusun rencana transisi bersama lembaga sertifikasi.
  • Memperbarui dokumen dan proses yang terdampak.
  • Melaksanakan pelatihan dan sosialisasi kepada pihak terkait.
  • Melakukan audit internal sebelum proses transisi sertifikasi.

Kesalahan yang Sebaiknya Dihindari

Dalam menghadapi revisi ISO 45001, perusahaan sebaiknya menghindari beberapa kesalahan berikut:

  1. Menunggu sampai standar final diterbitkan.
    Menunggu terlalu lama dapat membuat perusahaan memiliki waktu persiapan yang terbatas.
  2. Mengubah dokumen berdasarkan rumor.
    Isi DIS masih dapat berubah sebelum menjadi standar final.
  3. Berfokus hanya pada dokumen.
    Sistem K3 harus terlihat dalam perilaku, pengendalian operasional, dan keputusan sehari-hari.
  4. Mengabaikan pekerja dan kontraktor.
    Risiko K3 sering kali muncul dari aktivitas operasional yang tidak cukup dikomunikasikan.
  5. Tidak melakukan evaluasi terhadap efektivitas pengendalian.
    Perusahaan perlu membuktikan bahwa tindakan pengendalian benar-benar menurunkan risiko.

Kesimpulan

Revisi ISO 45001 merupakan perkembangan penting bagi perusahaan yang menerapkan sistem manajemen keselamatan dan kesehatan kerja. Per 2026, revisi telah mencapai tahap Draft International Standard dan versi final diperkirakan terbit pada 2027.

Meskipun persyaratan final belum dapat dipastikan sepenuhnya, perusahaan sudah dapat melakukan persiapan melalui penguatan sistem yang berjalan. Fokus utama dapat diarahkan pada gap analysis, identifikasi bahaya, pengendalian risiko, keterlibatan pekerja, risiko psikososial, perubahan iklim, pengendalian kontraktor, evaluasi kinerja, dan kepemimpinan manajemen.

Perusahaan yang mulai berbenah sejak sekarang akan memiliki posisi yang lebih siap ketika standar revisi resmi diterbitkan dan masa transisi mulai diberlakukan.

Butuh Pendampingan Implementasi ISO 45001?

NSM membantu perusahaan dalam penerapan sistem manajemen keselamatan dan kesehatan kerja melalui layanan konsultasi, pendampingan implementasi, audit internal, pelatihan, dan persiapan sertifikasi ISO 45001.

Dengan pendampingan yang tepat, perusahaan dapat mengevaluasi sistem yang berjalan, mengidentifikasi kesenjangan, serta menyusun rencana peningkatan yang lebih terarah menghadapi perkembangan standar ISO 45001.

Share This Article

share Facebook share Twitter share LinkedIn chat WhatsApp
arrow_back Back to All Articles

Need ISO Certification Consultation?

The NSM expert team is ready to assist you from initial consultation to completed certification.

chat Get Free Consultation Now