Perusahaan ingin mengurangi emisi karbon, tetapi tidak tahu harus mulai dari mana?
Salah satu masalah yang sering terjadi adalah perusahaan ingin membuat target pengurangan emisi, tetapi belum memiliki data yang jelas mengenai berapa besar emisi yang sebenarnya dihasilkan.
Tanpa data, perusahaan hanya bisa memperkirakan.
Padahal, untuk mengelola sesuatu dengan baik, perusahaan perlu terlebih dahulu mengukurnya.
Berapa emisi dari penggunaan listrik?
Berapa emisi dari bahan bakar kendaraan?
Berapa emisi dari proses produksi?
Bagaimana dengan perjalanan dinas?
Bagaimana dengan refrigeran, proses industri, atau aktivitas lain yang menghasilkan gas rumah kaca?
Untuk membantu organisasi melakukan pengukuran dan pelaporan secara sistematis, terdapat ISO 14064-1:2018 – Greenhouse gases — Part 1: Specification with guidance at the organization level for quantification and reporting of greenhouse gas emissions and removals.
Standar ini menetapkan prinsip dan persyaratan pada tingkat organisasi untuk melakukan kuantifikasi dan pelaporan emisi serta penghilangan gas rumah kaca, termasuk pengembangan, pengelolaan, pelaporan, dan verifikasi inventarisasi GHG organisasi.
Apa Itu ISO 14064-1:2018?
ISO 14064-1:2018 merupakan standar internasional yang membantu organisasi membangun dan mengelola inventarisasi gas rumah kaca (GHG inventory).
Sederhananya, standar ini membantu perusahaan menjawab:
"Berapa besar emisi gas rumah kaca yang dihasilkan oleh organisasi kita?"
Bukan hanya satu aktivitas.
Bukan hanya penggunaan listrik.
Tetapi emisi yang berkaitan dengan aktivitas organisasi sesuai batas organisasi dan batas pelaporan yang ditetapkan.
ISO 14064-1 mencakup persyaratan untuk merancang, mengembangkan, mengelola, melaporkan, dan melakukan verifikasi inventarisasi GHG organisasi.
Dengan demikian, perusahaan memiliki dasar data yang lebih terstruktur untuk memahami kondisi emisinya.
Mengapa Perusahaan Perlu Mengukur Emisi?
Bayangkan sebuah perusahaan mengatakan:
"Tahun depan kami ingin mengurangi emisi karbon sebesar 20%."
Pertanyaannya:
20% dari berapa?
Jika perusahaan tidak mengetahui baseline emisinya, target tersebut sulit diukur.
Misalnya tahun ini perusahaan menghasilkan:
10.000 ton CO₂e
Kemudian perusahaan menetapkan target pengurangan 20%.
Maka targetnya dapat diterjemahkan menjadi:
8.000 ton CO₂e
Sekarang target tersebut menjadi lebih konkret.
Perusahaan dapat membandingkan:
Baseline → Target → Aktual → Hasil Pengurangan
Inilah mengapa pengukuran emisi menjadi dasar penting dalam strategi pengelolaan perubahan iklim.
Apa Itu GHG Inventory?
GHG Inventory atau inventarisasi gas rumah kaca merupakan kumpulan data mengenai sumber dan jumlah emisi serta penghilangan gas rumah kaca yang berkaitan dengan organisasi.
Secara sederhana, perusahaan membuat semacam "neraca emisi".
Misalnya:
| Sumber Emisi | Konsumsi/Aktivitas | Emisi |
|---|---|---|
| Listrik | 10 juta kWh | xxx tCO₂e |
| Solar kendaraan | 500.000 liter | xxx tCO₂e |
| Gas alam | 1 juta m³ | xxx tCO₂e |
| Refrigeran | xx kg | xxx tCO₂e |
| Perjalanan bisnis | xx km | xxx tCO₂e |
Angka di atas hanya contoh.
Dalam penerapan sebenarnya, perusahaan perlu menentukan sumber emisi, batas organisasi, metode kuantifikasi, data aktivitas, faktor emisi, serta pendekatan yang sesuai.
ISO 14064-1 Berbeda dengan ISO 14067
Keduanya sama-sama berhubungan dengan emisi gas rumah kaca, tetapi objeknya berbeda.
ISO 14064-1 berfokus pada tingkat organisasi.
Sementara ISO 14067 berfokus pada carbon footprint suatu produk.
Perbedaannya dapat digambarkan seperti ini:
| ISO 14064-1 | ISO 14067 |
|---|---|
| Tingkat organisasi | Tingkat produk |
| Mengukur inventarisasi GHG organisasi | Mengukur carbon footprint produk |
| Fokus pada emisi dan penghilangan GHG organisasi | Fokus pada dampak perubahan iklim dari sistem produk |
| Menghasilkan GHG inventory organisasi | Menghasilkan informasi CFP |
| Cocok untuk pelaporan emisi organisasi | Cocok untuk pengukuran jejak karbon produk |
Jadi, apabila pertanyaannya:
"Berapa emisi perusahaan kami?"
ISO 14064-1 lebih relevan.
Jika pertanyaannya:
"Berapa jejak karbon produk kami?"
ISO 14067 lebih relevan.
Dari Mana Emisi Perusahaan Berasal?
Emisi perusahaan dapat berasal dari berbagai aktivitas.
Contohnya:
Penggunaan Bahan Bakar
Pembakaran bahan bakar untuk kendaraan, boiler, generator, atau peralatan lainnya dapat menghasilkan emisi.
Penggunaan Listrik
Listrik yang digunakan perusahaan dapat memiliki emisi tidak langsung yang berkaitan dengan pembangkitan energi.
Proses Produksi
Beberapa proses industri dapat menghasilkan emisi GHG secara langsung.
Refrigeran
Kebocoran refrigeran dari sistem pendingin dapat menjadi sumber emisi gas rumah kaca.
Transportasi
Aktivitas transportasi perusahaan dapat berkontribusi terhadap emisi.
Perjalanan Bisnis
Perjalanan menggunakan pesawat, kendaraan, atau moda transportasi lainnya juga dapat menjadi bagian dari inventarisasi sesuai batas dan kategori pelaporan yang digunakan.
Aktivitas Tidak Langsung Lainnya
Perusahaan juga dapat memiliki sumber emisi tidak langsung lainnya yang relevan dengan aktivitas dan rantai nilainya.
Karena itu, menghitung emisi perusahaan bukan hanya soal membaca tagihan listrik.
Ada banyak sumber emisi yang perlu dipetakan.
Menentukan Batas Organisasi
Salah satu hal penting dalam ISO 14064-1 adalah menentukan organizational boundaries.
Perusahaan perlu menentukan organisasi, fasilitas, atau aktivitas mana yang masuk ke dalam inventarisasi.
Misalnya sebuah grup perusahaan memiliki:
- kantor pusat;
- tiga pabrik;
- gudang;
- anak perusahaan;
- kendaraan operasional; dan
- fasilitas pendukung.
Apakah semuanya masuk dalam inventarisasi?
Jawabannya perlu ditentukan berdasarkan pendekatan dan batas organisasi yang digunakan.
ISO 14064-1 membantu organisasi menetapkan batas tersebut secara sistematis. ISO menjelaskan bahwa batas organisasi dapat ditentukan menggunakan pendekatan seperti control approach atau equity share approach.
Menentukan Operational Boundaries
Setelah menentukan batas organisasi, perusahaan perlu melihat aktivitas dan sumber emisi yang masuk dalam inventarisasi.
Misalnya:
Batas Organisasi → Fasilitas → Aktivitas → Sumber Emisi
Contohnya:
Pabrik → Boiler → Pembakaran gas → Emisi GHG.
Atau:
Kantor → Kendaraan operasional → Pembakaran solar → Emisi GHG.
Pendekatan seperti ini membantu perusahaan memetakan sumber emisi dengan lebih terstruktur.
Scope 1, Scope 2, dan Scope 3
Dalam praktik pengelolaan emisi, istilah Scope 1, Scope 2, dan Scope 3 sangat sering digunakan.
Secara sederhana:
Scope 1: Emisi Langsung
Emisi yang berasal dari sumber yang dimiliki atau dikendalikan oleh organisasi.
Contohnya:
- pembakaran bahan bakar pada boiler;
- generator;
- kendaraan perusahaan;
- proses industri tertentu;
- kebocoran refrigeran.
Scope 2: Emisi Tidak Langsung dari Energi yang Dibeli
Berkaitan dengan energi yang dibeli dan dikonsumsi organisasi, terutama listrik.
Misalnya perusahaan membeli listrik dari jaringan.
Perusahaan tidak membakar bahan bakar di pembangkit listrik tersebut, tetapi penggunaan listrik tetap berkaitan dengan emisi dari produksi energi tersebut.
Scope 3: Emisi Tidak Langsung Lainnya
Merupakan emisi tidak langsung lainnya yang berkaitan dengan aktivitas organisasi, tetapi berasal dari sumber yang tidak dimiliki atau dikendalikan secara langsung.
Contohnya dapat mencakup aktivitas dalam rantai nilai seperti perjalanan bisnis, transportasi tertentu, atau aktivitas pemasok, tergantung batas dan metode inventarisasi yang digunakan.
ISO 14064-1 memberikan kerangka untuk kuantifikasi dan pelaporan emisi organisasi, termasuk emisi langsung dan tidak langsung. ISO juga menyediakan panduan penerapan melalui ISO/TS 14064-4:2025.
Bagaimana Cara Menghitung Emisi?
Secara sederhana, perhitungan emisi dapat digambarkan:
Data Aktivitas × Faktor Emisi = Emisi GHG
Misalnya perusahaan menggunakan bahan bakar sebanyak:
100.000 liter
Kemudian tersedia faktor emisi yang sesuai.
Perusahaan dapat mengonversi konsumsi bahan bakar tersebut menjadi jumlah emisi dalam satuan:
tCO₂e
Namun dalam praktiknya, proses penghitungan membutuhkan perhatian terhadap jenis sumber emisi, kualitas data, faktor emisi, metode kuantifikasi, serta asumsi yang digunakan.
Karena itu, perusahaan tidak cukup hanya menggunakan kalkulator karbon tanpa memahami dasar metodologi perhitungannya.
Mengapa CO₂e Digunakan?
Gas rumah kaca tidak hanya berupa karbon dioksida.
Ada berbagai jenis gas rumah kaca dengan karakteristik dan dampak pemanasan global yang berbeda.
Agar berbagai gas tersebut dapat dibandingkan dalam satu ukuran, emisi biasanya dinyatakan dalam:
CO₂ equivalent (CO₂e)
Dengan demikian, perusahaan dapat menggabungkan berbagai sumber emisi ke dalam satu inventarisasi yang lebih mudah dibandingkan.
Kualitas Data Sangat Penting
Bayangkan perusahaan menghasilkan laporan:
Total Emisi = 25.000 tCO₂e
Pertanyaan berikutnya:
Seberapa akurat angka tersebut?
Karena itu, kualitas data merupakan bagian penting dalam penyusunan inventarisasi GHG.
Perusahaan perlu memperhatikan:
- sumber data;
- periode data;
- metode pengumpulan;
- faktor emisi;
- asumsi;
- perhitungan;
- konsistensi;
- dokumentasi; dan
- keterlacakan data.
Semakin baik sistem pengelolaan datanya, semakin kuat pula dasar inventarisasi emisinya.
Contoh Sederhana Perusahaan Manufaktur
Misalnya sebuah perusahaan memiliki pabrik dengan aktivitas:
- penggunaan listrik;
- boiler berbahan bakar gas;
- kendaraan operasional;
- generator diesel;
- sistem pendingin;
- perjalanan bisnis.
Perusahaan kemudian melakukan pemetaan.
Hasil awal menunjukkan bahwa sumber emisi terbesar berasal dari:
Boiler → 40%
Listrik → 35%
Transportasi → 15%
Generator → 7%
Sumber lainnya → 3%
Dari data tersebut, perusahaan dapat melihat bahwa tidak semua sumber emisi memiliki kontribusi yang sama.
Jika perusahaan ingin menurunkan emisi secara signifikan, maka perhatian utama mungkin perlu diarahkan pada boiler dan penggunaan energi, bukan hanya pada aktivitas dengan kontribusi kecil.
Inilah manfaat penting dari inventarisasi.
Data membantu perusahaan menentukan prioritas.
ISO 14064-1 dan Target Pengurangan Emisi
Setelah mengetahui baseline emisi, perusahaan dapat mulai menetapkan target.
Misalnya:
Baseline 2026: 50.000 tCO₂e
Target:
Pengurangan 15%
Maka perusahaan perlu menentukan bagaimana pengurangan tersebut akan dicapai.
Misalnya:
- meningkatkan efisiensi energi;
- mengganti peralatan;
- menggunakan energi terbarukan;
- mengoptimalkan proses produksi;
- mengurangi konsumsi bahan bakar;
- mengoptimalkan transportasi; atau
- melakukan tindakan lain yang relevan.
Setelah program berjalan, perusahaan dapat menghitung kembali emisinya dan membandingkan hasil aktual dengan baseline.
Dengan demikian:
Measure → Set Target → Reduce → Monitor → Report
menjadi siklus yang lebih terukur.
ISO 14064-1 Bukan Sekadar Menghitung Emisi
Ada anggapan bahwa ISO 14064-1 hanya tentang menghitung angka emisi.
Padahal cakupannya lebih luas.
Standar ini mencakup persyaratan untuk desain, pengembangan, manajemen, pelaporan, dan verifikasi inventarisasi GHG organisasi.
Artinya, perusahaan perlu memikirkan bagaimana inventarisasi tersebut:
- dirancang;
- dikelola;
- didokumentasikan;
- dilaporkan;
- dan, jika diperlukan, diverifikasi.
Jadi, hasil akhirnya bukan sekadar sebuah angka.
Yang dibangun adalah inventarisasi GHG yang dapat dikelola dan dipertanggungjawabkan.
Apakah Emisi Perusahaan Perlu Diverifikasi?
Verifikasi merupakan proses untuk memberikan tingkat keyakinan terhadap informasi atau pernyataan GHG yang dibuat organisasi.
ISO 14064-1 memasukkan aspek verifikasi dalam persyaratan terkait inventarisasi dan pelaporan GHG.
Sementara itu, ISO 14064-3:2019 secara khusus menjelaskan prinsip dan persyaratan untuk melakukan validasi dan verifikasi pernyataan gas rumah kaca.
Verifikasi dapat menjadi penting ketika informasi emisi digunakan untuk kebutuhan eksternal, pelaporan, kepatuhan terhadap program tertentu, kebutuhan pelanggan, atau kepentingan stakeholder lainnya.
Apa Manfaat ISO 14064-1 bagi Perusahaan?
Mengetahui Baseline Emisi
Perusahaan memiliki gambaran mengenai jumlah emisi yang dihasilkan dalam periode tertentu.
Menentukan Prioritas Pengurangan
Data membantu perusahaan mengetahui sumber emisi terbesar dan menentukan area yang perlu diprioritaskan.
Mendukung Target Climate Action
Perusahaan dapat menetapkan target berdasarkan data yang lebih terukur.
Meningkatkan Transparansi
Inventarisasi yang terdokumentasi membantu perusahaan menyediakan informasi emisi yang lebih terstruktur.
Mendukung Pengambilan Keputusan
Manajemen dapat menggunakan data emisi sebagai salah satu dasar dalam mengambil keputusan terkait energi, proses, investasi, dan strategi lingkungan.
Mengurangi Risiko Greenwashing
Data dan metodologi yang transparan dapat membantu meningkatkan kredibilitas klaim terkait emisi dan pengurangan emisi. ISO juga menekankan peran standar dalam membantu menghasilkan pelaporan GHG yang kredibel dan konsisten.
Mendukung Kebutuhan Stakeholder
Pelanggan, investor, mitra bisnis, regulator, maupun pihak lain semakin membutuhkan informasi mengenai dampak iklim organisasi.
ISO 14064-1 dan ISO 14001: Apa Bedanya?
ISO 14001 dan ISO 14064-1 sama-sama berkaitan dengan lingkungan, tetapi tujuan utamanya berbeda.
| ISO 14001 | ISO 14064-1 |
|---|---|
| Sistem Manajemen Lingkungan | Inventarisasi Gas Rumah Kaca |
| Fokus pada sistem pengelolaan lingkungan organisasi | Fokus pada kuantifikasi dan pelaporan emisi dan removal GHG |
| Mencakup berbagai aspek lingkungan | Fokus pada perubahan iklim/GHG |
| Menetapkan kerangka Environmental Management System | Menetapkan prinsip dan persyaratan GHG inventory |
| Fokus pada pengelolaan dan peningkatan sistem lingkungan | Fokus pada pengukuran, pengelolaan, pelaporan, dan verifikasi inventarisasi GHG |
Keduanya tidak harus dipandang sebagai pilihan salah satu.
ISO sendiri menjelaskan bahwa standar dalam seri ISO 14064 dapat menjadi pelengkap bagi ISO 14001 dan dapat diintegrasikan dengan kerangka pengelolaan lingkungan yang sudah dimiliki organisasi.
ISO 14064-1 dan ISO 50001
ISO 50001 juga dapat berhubungan erat dengan ISO 14064-1.
ISO 50001 berfokus pada Sistem Manajemen Energi.
ISO 14064-1 berfokus pada inventarisasi emisi gas rumah kaca organisasi.
Keduanya dapat saling mendukung.
Misalnya:
ISO 50001 → Meningkatkan kinerja energi
ISO 14064-1 → Mengukur dan melaporkan emisi GHG
Ketika perusahaan berhasil mengurangi konsumsi energi, dampaknya dapat tercermin dalam inventarisasi emisi sesuai sumber energi dan metode perhitungan yang digunakan.
Bagaimana Perusahaan Memulai?
Perusahaan yang baru ingin membangun inventarisasi GHG dapat memulainya secara bertahap.
1. Tentukan Tujuan
Tentukan mengapa perusahaan ingin mengukur dan melaporkan emisi.
2. Tentukan Batas Organisasi
Identifikasi entitas, fasilitas, atau operasi yang masuk dalam inventarisasi.
3. Petakan Sumber Emisi
Identifikasi aktivitas yang menghasilkan emisi GHG.
4. Kumpulkan Data
Siapkan data aktivitas dari berbagai departemen.
Misalnya:
- data listrik;
- bahan bakar;
- produksi;
- transportasi;
- refrigeran;
- perjalanan;
- dan data relevan lainnya.
5. Tentukan Metode Perhitungan
Gunakan metode dan faktor emisi yang sesuai dengan sumber emisi dan tujuan inventarisasi.
6. Hitung Emisi
Konversikan data aktivitas menjadi emisi GHG dalam satuan yang sesuai, umumnya CO₂e.
7. Dokumentasikan
Catat sumber data, metode, asumsi, faktor emisi, dan hasil perhitungan.
8. Evaluasi dan Review
Periksa konsistensi, kelengkapan, dan kualitas data.
9. Laporkan
Susun laporan inventarisasi GHG sesuai tujuan dan kebutuhan organisasi.
10. Pertimbangkan Verifikasi
Jika diperlukan, organisasi dapat mempertimbangkan proses verifikasi oleh pihak yang kompeten sesuai kebutuhan dan skema yang berlaku.
Apakah ISO 14064-1:2018 Masih Berlaku?
Ya, tetapi sedang dalam proses revisi.
ISO 14064-1:2018 saat ini masih berstatus Published dan versi tersebut telah ditinjau serta dikonfirmasi pada 2024 sehingga tetap menjadi versi current.
Namun, ISO saat ini sedang mengembangkan ISO/WD 14064-1.2 sebagai edisi berikutnya yang akan menggantikan ISO 14064-1:2018. Dokumen tersebut masih berstatus Working Draft, sehingga belum merupakan standar final yang berlaku.
Artinya, perusahaan yang saat ini menggunakan ISO 14064-1:2018 sebaiknya tetap mengikuti perkembangan revisi tersebut agar dapat mempersiapkan penyesuaian sistem ketika edisi baru diterbitkan.
Kesimpulan
Perusahaan tidak dapat mengelola emisi dengan baik jika tidak mengetahui berapa besar emisi yang dihasilkan dan dari mana sumbernya.
ISO 14064-1:2018 memberikan kerangka untuk membantu organisasi melakukan kuantifikasi, pengelolaan, pelaporan, dan verifikasi inventarisasi gas rumah kaca pada tingkat organisasi.
Dengan memiliki inventarisasi GHG yang terstruktur, perusahaan dapat:
- mengetahui baseline emisi;
- mengidentifikasi sumber emisi terbesar;
- menentukan prioritas pengurangan;
- menetapkan target;
- memantau perkembangan;
- meningkatkan transparansi; dan
- mendukung strategi perusahaan dalam menghadapi perubahan iklim.
Yang paling penting, pengukuran emisi bukanlah tujuan akhir.
Angka emisi adalah titik awal untuk mengambil tindakan.
Karena setelah perusahaan mengetahui:
"Berapa emisi kita?"
pertanyaan berikutnya adalah:
"Apa yang bisa kita lakukan untuk menguranginya?"
Di situlah data inventarisasi GHG menjadi penting.
Bagi organisasi yang ingin membangun sistem pengukuran dan pelaporan emisi gas rumah kaca secara lebih terstruktur, ISO 14064-1:2018 dapat menjadi salah satu acuan penting untuk memulai perjalanan tersebut.
NSM – Nasional Sertifikasi Mutu membantu organisasi memahami dan mempersiapkan penerapan berbagai standar sesuai kebutuhan organisasi, termasuk standar dan pendekatan terkait pengelolaan lingkungan, gas rumah kaca, dan keberlanjutan.